Stress Penyebab ASI Tidak Keluar Banyak dan Lancar

Stress Penyebab ASI Tidak Keluar Banyak dan Lancar

Tidak sedikit ibu jaman sekarang yang memiliki berbagai masalah berhadap pengeluaran ASI, produksi ASI dan kelancaran ASI. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor pencetus terhadap terjadinya stress. Stress pada seorang ibu yang sedang menyusui harus diatasi, dikarenakan stress penyebab ASI tidak keluar banyak dan lancar.

Apasih Stress Itu?

Stres sebagai kondisi individu yang dipengaruhi oleh lingkungan. Kondisi stres terjadi karena ketidakseimbangan antara tekanan yang dihadapi individu dan kemampuan untuk menghadapi tekanan tersebut. Individu membutuhkan energi yang cukup untuk menghadapi situasi stres agar tidak mengganggu kesejahteraan mereka. Stress juga dapat mempengaruhi pada pengeluaran ASI. stress penyebab ASI tidak keluar

Faktor penyebab stress secara umum

  • Faktor Psikologis. Pengalaman masa kecil yang bernilai emosi tinggi namun pada masa berikutnya ditekan sehingga dapat menimbulkan kecemasan. Faktor psikologis dapat ditimbulkan oleh hilangnya kekuasaan pada diri seseorang. Rasa cemas pada orang dewasa adalah akibat dari rekaman getaran kehidupan sejak dalam kandungan. Padahal, janin didalam kandungan memerlukan ketenangan dan kedamaian dari ibunya. Getaran seperti itulah yang akan terekam sampai usia dewasa
  • Faktor Genetika wanita lebih mudah merasakan suatu masalah dan dibawanya ke dalam hati/perasaan. Namun, sulit mengeluarkan perasan tersebut, sementara wanita memiliki kondisi tubuh yang lebih lemah dari pada pria sehingga wanita lebih banyak mengalami kecemasan dari pada pria.
  • Faktor Sosial Budaya dan norma yang berbeda antara yang bersangkutan dengan yang ada dalam masyarakat, di mana yang bersangkutan tidak dapat menyesuaikan diri dengan budaya yang ada sehingga timbul kecemasan
    Stres pada ibu Hamil

Beberapa kondisi disetiap trimester dibawah ini dapat menjadikan stress penyebab ASI tidak keluar

1. Trimester I

Pada sebagian wanita, reaksi psikologis dan emosional pertama adalah kecemasan, ketakutan, kepanikan dan kegusaran terhadap kehamilan. Mual, muntah, dan pusing yang merupakan gejala hamil muda.

2. Trimester II

Ibu yang menganggap kehamilan merupakan suatu identifikasi abstrak, mulai menyadari kenyataan bahwa kehamilan merupakan identifikasi nyata. Ibu mulai menyesuaikan diri dengan kenyataan perut bertambah besar, terasa gerakan janin, dan dokter telah mendengar suara denyut jantung janin. Ibu mulai mempersiapkan kebutuhannya

3. Trimester III

Timbul gejolak baru menghadapi persalinan dan tanggung jawab sebagai ibu pada pengurusan bayi yang akan dilahirkan. Ada 3 golongan ibu yang mungkin merasa takut:

  • Ibu yang mempunyai riwayat pengalaman buruk pada persalinan yang lalu.
  • Multipara yang usianya diatas 30 tahun, akan merasa takut terhadap janin dan anaknya apabila terjadi sesuatu atas dirinya.
  • Primigravida yang mendengar tentang pengalaman nyeri dan menakutkan dari orang lain.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress Ibu Hamil

  • Status Kesehatan Ibu dan Bayi Kehamilan merupakan tahap proses berkembangnya janin dalam rahim ibu. bayi yang berada pada kandungan ibu sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan ibu. Kondisi tersebut membuat ibu merasa cemas akan kondisi bayi dalam kandungannya. Mual dan kelelahan yang disertai peningkatan kecemasan akan semakin memperburuk kondisi ibu dan janin yang dikandungnya.
  • Dukungan suami Perhatian dan dukungan dari orang-orang terdekat terutama suami sangat membantu dalam mengatasi kecemasan yang dialami ibu hamil karena perubahan-perubahan baik fisik maupun psikologis yang terjadi selama kehamilan. Seseorang yang hamil harus dihindarkan dari stress karena stress penyebab ASI tidak keluar Dukungan suami akan meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kemampuan penyesuaian diri melalui perasaan memiliki, peningkatan harga diri, pencegahan psikologis, pengurangan stres serta penyediaan sumber atau bantuan yang dibutuhkan selama kehamilan.
  • Faktor Pendidikan Keadaan ini berlaku pula pada ibu hamil di mana terjadi perubahan-perubahan psikologis yang cenderung mempengaruhi pada adanya kecemasan. Tingkat kecemasan dan stress seseorang (ibu hamil) dipengaruhi oleh keterampilan coping yang dimilikinya. Metode coping tersebut dapat digunakan oleh calon orang tua dan anggota keluarga untuk menyesuaikan terhadap realitas kehamilan dan mencapai keseimbangan pada kehidupan ibu hamil yang terganggu. Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan kecemasan, klien dengan pendidikan tinggi akan lebih mampu mengatasi, menggunakan coping yang efektif dan konstuktif dari pada seseorang dengan pendidikan rendah.
  • Faktor umur dapat mempengaruhi keadaan psikologis ibu hamil. Umur yang ideal bagi wanita untuk hamil adalah 20-35 tahun. Karena, proses kehamilan yang terlalu muda (< 20 tahun) atau terlalu tua (> 35 19 tahun) akan menimbulkan masalah pada ibu dan janin yang dikandung baik secara fisik maupun psikologis. Faktor umur merupakan faktor yang paling sering terjadi terhadap kejadian stress penyebab ASI tidak keluar.

Mekanisme Stress terhadap penyebab ASI tidak Keluar banyak dan lancar

Stres psikologis akan memberikan kejenuhan dan menurunkan level kebahagiaan seseorang sehingga menghambat pengeluaran oksitosin yang membuat produksi ASI menurun sehingga stress penyebab ASI tidak keluar. Maternal stress mengganggu pengeluaran oksitosin yaitu hormon yang bertanggung jawab terhadap reflek pengeluaran ASI. Jika refleks pengeluaran ASI sering terganggu, maka pengeluaran ASI yang tidak lengkap secara bertahap akan menimbulkan down regulation dari sintesis produksi ASI.

Apabila ibu dalam kondisi stres, kebingungan, takut atau cemas akan mempengaruhi pelepasan oksitosin dari neurohipofise sehingga terjadi menghambat let down refleks. Kondisi emosional distres yang dialami seorang ibu akan mempengaruhi pelepasan hormon adrenalin (epineprin) yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah alveoli, sehingga oksitosin tidak dapat mencapai miopitelum. Hal tersebut yang menjadikan kenapa stress penyebab ASI tidak keluar.

Faktor selain dukungan sosial yang dapat mempengaruhi produksi ASI adalah stres. Ibu sering mengalami kesulitan diawal menyusui seperti kelelahan, ASI sedikit, puting susu lecet, dan gangguan tidur malam hari, dan stres yang berhubungan dengan peran baru, hal tersebut dapat menjadi sumber stres ibu. Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Sewaktu bayi menyusu, ujung saraf peraba yang terdapat pada puting susu terangsang.

Rangsangan yang terjadi akan disampaikan pada hipofisis sehingga merangsang dalam pengeluaran prolaktin. Melalui sirkulasi prolaktin memacu sel kelenjar (alveoli) untuk memproduksi ASI. Jumlah prolaktin yang disekresi dan jumlah susu yang diproduksi berkaitan dengan stimulus isapan, yaitu frekuensi, intensitas dan lamanya bayi menghisap. stress penyebab ASI tidak keluar karena ASI dipengaruhi oleh kondisi kejiawan seseorang.

Semakin tertekan perasaan ibu karena tangisan bayi, semakin sedikit air susu yang dikeluarkan. stress penyebab ASI tidak keluar. Pengeluaran ASI akan berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman. Kondisi Stres pasca persalinan dialami 80% wanita setelah bersalin. Perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan.

Kondisi ibu yang mudah cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga dapat berpengaruh pada produksi ASI. Hal ini di karenakan stres penyebab ASI tidak keluar. Semakin tinggi tingkat gangguan emosional, semakin sedikit rangsangan hormon prolaktin yang diberikan untuk memproduksi ASI. Beberapa penjelasan diatas merupakan bagaimana dari stress penyebab ASI tidak keluar.

Itulah pembahasan di artikel ini untuk mempermudah dan melancarkan asi bunda juga bisa mencoba rekomendasi dari kami, salah satu produk yang bisa melancarkan asi bunda yakni “Madu Asi Umi“. Produk ini dipercaya dapat melancarkan ASI bunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *